"Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal" (QS. Al-Hujuraat [49] : ayat 13)

Sabtu, 28 September 2013

Perang Iran-Irak dan Jatidiri Bangsa Iran

Perang Iran-Irak yang berlangsung antara bulan September 1980 hingga
August 1988 merupakan salah satu perang konvensional terbesar dan
terpanjang sepanjang sejarah.

Meski secara militer tidak memberikan kemenangan yang signifikan bagi
Iran, perang tersebut telah memberikan dampak positif yang luar biasa
besar bagi eksistensi bangsa Iran hingga sekarang ini. Bagi semua
pengamat internasional perang tersebut telah menunjukkan jadi diri
bangsa Iran yang sangat militan, gigih, disiplin dan profesional.
Betapa tidak, dengan kekuatan militer yang jauh lebih kecil dibanding
Irak, Iran berhasil membalikkan kondisi dari negara yang diinvasi
menjadi negara yang menginvasi musuh. Jika bukan karena dukungan tanpa
batas negara-negara barat dan Arab terhadap Irak serta kekejian Saddam
Hussein melancarkan serangan senjata-senjata kimia secara
besar-besaran, hampir dipastikan Iran telah memenangkan peperangan.

Ketika Irak menyerbu Iran pada bulan September 1980, para pengamat
percaya bahwa hal itu akan mengakhiri gerakan Revolusi Iran yang baru
setahun menumbangkan regim diktator Shah Reza Pahlevi dan menggantinya
dengan regim baru yang anti-Israel dan Amerika. Pada saat itu para
anasir Amerika dan orang-orang liberal masih cukup kuat mencengkeram
berbagai posisi strategis, termasuk kursi kepresidenan yang dipegang
oleh Bani Sadr. Perpecahan di tubuh militer juga sangat akut. Tentara
reguler di bawah komando Presiden Bani Sadr bersaing keras dengan
Tentara Pengawal Revolusi dan Milisi Basij yang loyal kepada
Ayattollah Khomeini dan revolusi.

Akibatnya banyak operasi militer mengalami kegagalan tragis. Baru
setelah Bani Sadr digulingkan dari kekuasaannya dan melarikan diri ke
Perancis, Khomeini baru bisa mengambil alih komando tentara dan
memadukannya dengan kekuatan Tentara Pengawal Revolusi dan Milisi
Basij.

Namun kondisi tersebut masih belum bisa mengimbangi Irak secara
militer. Pada awal perang Iran hanya memiliki 150 ribu tentara, 1000
tank, 1000 kendaraan lapis baja, 300 artileri, 320 pesawat tempur dan
750 helikopter. Pada saat yang sama Irak memiliki 350 ribu tentara,
6500 tank, 4000 kendaraan lapis baja, 800 artileri, 600 pesawat tempur
dan 350 helikopter.

Dengan kondisi seperti itu Iran masih menghadapi 2 persoalan berat
lainnya, yaitu embargo senjata oleh negara-negara barat terutama
Amerika yang selama ini menjadi pemasok utama senjata Iran, serta
pembersihan besar-besaran di tubuh militer oleh pemerintahan
revolusioner yang membuat kekuatan militer Iran mengalami penurunan
tajam.

Iran mengatasi kekurangan-kekurangan tersebut dengan 3 faktor:
semangat dan kegigihan personil militer dan para pemimpinnya, taktik
yang jitu serta profesionalisme militernya. Dengan ketiga faktor
tersebut Iran berhasil memukul mundur pasukan Irak dari wilayah Iran
dan sejak tahun 1982 Iran berada di pihak yang menyerbu dan menduduki
wilayah Irak.

Kedisiplinan dan keprofesionalan militer Iran bisa dilihat
konsitensinya mereka untuk tidak menggunakan senjata kimia meski
puluhan ribu tentara Iran menjadi korban dan para insinyur Iran mampu
membuat senjata kimia yang tidak kalah canggih dibanding milik Irak.
Iran hanya membuat zat-zat penangkal racun untuk melawan serangan
massif bom-bom kimia Irak. Selain itu para pilot Iran juga telah
menunjukkan keahlian yang tinggi di medan pertempuran, sedemikian rupa
hingga para pilot Irak diperintahkan menjauhi pertempuran udara
melawan para pilot Iran.

Namun para pilot helikopter tempur Iran telah mencatat sejarah
kemiliteran dengan tinta emas.

Mereka adalah satu-satunya pilot helikopter tempur di dunia yang
pernah terlibat dalam pertempuran-pertempuran udara, dan menang.
Secara rata-rata seorang pilot helikopter Iran pernah menembak jatuh 9
helikopter Irak. Selama perang berkali-kali pilot helikopter AH-1J
Cobra Iran terlibat duel udara melawan pilot-pilot helikoter Irak yang
mengemudikan heli Mi-24 dan Mi-25 buatan Uni Sovyet yang lebih modern.
Pada tgl 22 September 1980 2 heli Cobra Iran menembak jatuh 2 heli
Mi-25 Irak.

Hal serupa terjadi pada tgl 24 April 1981, dengan jumlah dan jenis
heli yang terlibat serta heli yang jatuh.

Berikut saya cuplikkan satu gambaran tentang kehandalan pilot-pilot
Iran dalam menghambat invasi Irak, dari Wikipedia:

"Kekuatan udara Iran yang terdiri dari helikopter-helikopter tempur
AH-1 Cobra mulai melakukan serangan terhadap satuan-satuan tentara
Irak yang tengah bergerak maju. Bersama dengan pesawat-pesawat F-4
Phantoms yang dilengkapi rudal Maverick mereka menghancurkan sejumlah
besar tank dan kendaraan lapis baja Irak dan menghambat gerakan maju
mereka. Para pilot Iran kemudian mengetahui bahwa 2 atau 3 pesawat
tempur F-4 yang terbang rendah dapat dengan mudah menghancurkan
target-target bergerak Irak di mana-mana.

Sementara serangan udara Irak dipukul mundur oleh jet-jet penyergap
F-14 Tomcat Iran yang dilengkapi rudal Phoenix yang berhasil
menjatuhkan sejumlah besar pesawat tempur Irak selama 2 hari pertama
pertempuran."

Selain terlibat dalam berbagai misi penyerangan, pilot-pilot helikoter
AH-1 Cobra Iran juga berkali-kali berhasil menjalankan misi
"penyelamatan" atas satuan-satuan militer Iran yang terdesak.

Pada tgl 16 Juli 1982 misalnya, mereka berhasil menyelamatkan
tentara-tentara Iran yang terkepung dalam pertempuran di dekat kota
Basra.

Mulai 1982 Iran berada di pihak yang unggul setelah berhasil memukul
mundur pasukan Irak dari wilayah Iran dan berbalik menduduki wilayah
Irak. Pada saat itu bisa diketahui besarnya kehancuran militer Irak
akibat perlawanan tentara Iran. Pada saat itu Irak hanya memiliki 1200
tank, 450 pesawat tempur dan 180 helikopter. Dengan kata lain selama
kurang 2 tahun pertempuran Irak telah kehilangan lebih dari 5000 tank,
150 pesawat tempur dan 170 helikopter. Dalam periode yang sama Iran
hanya kehilangan 300 tank, 0 pesawat tempur dan 50 helikopter.

Pada saat itu Iran sebenarnya mendapatkan kesempatan "enak" dengan
menerima tawaran penghentian perang yang diajukan Irak ditambah
pemberian ganti rugi serta status sebagai "negara pemenang". Namun
Ayatollah Khomeini, seorang pemimpin dengan visi sangat jauh ke depan,
melihat hal itu justru bisa mematikan "api revolusi" yang tengah
berkobar pada bangsa Iran.
Dengan menerima tawaran itu maka semangat revolusi perlahan-lahan akan
padam oleh semangat mengejar kesenangan sesaat.

Khomeini melihat bangsa Iran tengah memanggul amanah mulia dari Tuhan
untuk memimpin umat Islam di seluruh dunia melawan kakuatan jahat
zionis internasional dan membebaskan Palestina. Misi itu tidak mungkin
bisa dipanggul oleh bangsa yang mudah berkompromi dengan godaan
duniawi. Maka Khomeini menolak tawaran Saddam Hussein untuk
menghentikan pertempuran setelah menganggap mengalahkan Saddam Hussein
sama dengan mengalahkan zionis internasional dan membuka pintu bagi
misi selanjutnya, yaitu membebaskan Palestina.

Sikap Khomeini sama dengan sikap yang diambil Nabi Muhammad setelah
kemenangan kaum muslim atas kaum musrik Quraish Mekkah dalam Perang
Badar. Kala itu sebagian kaum muslim tergoda untuk mendapatkan harta
tebusan dari tawanan-tawanan perang yang mereka dapatkan. Namun Allah
memerintahkan Nabi Muhammad untuk menghukum mati para gembong Quraish
yang tertawan.

Jika saja Nabi memenuhi keinginan sebagian kaum muslim itu, maka
semangat jihad umat Islam akan luntur dan digantikan oleh semangat
mencari keuntungan dunia, dan Islam pun tidak akan sampai kepada kita
saat ini.

Khomeini memang gagal mewujudkan ambisinya mengalahkan regim "kafir
antek zionis" Saddam Hussein karena bantuan tanpa batas Amerika dan
negara-negara Arab kepada Irak serta karena kekejian Irak melancarkan
perang senjata kimia yang tidak diladeni Iran. Namun Khomeini berhasil
menjaga "api revolusi Islam" tetap berkibar di tengah-tengah bangsa
Iran, hingga saat ini.

Catatan: Syria dan Libya adalah 2 dari sedikit negara yang menjadi
pendukung Iran dan melakukan tindakan nyata baik berupa penutupan
akses darat Irak ke Laut Tengah melalui Syria atau berupa pemberian
bantuan persenjataan.

Selain itu pada saat yang sama tentara-tentara Syria bahu-membahu
dengan tentara Iran terlibat perang rahasia namun intensif melawan
Israel dan Amerika di Lebanon. Libya sudah dihancurkan zionis
internasional dan kini Syria tengah menjadi sasaran berikutnya.


(cahyono-adi.blogspot.com)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar