"Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal" (QS. Al-Hujuraat [49] : ayat 13)

Senin, 28 Januari 2013

Perlu Gerakan Penyadaran Global di Indonesia Bendung Strategi Global AS di Suriah

Memahami Road Map Penaklukkan Dunia AS

Pidato Presiden SBY di depan Musyawarah Nasional Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) senin 17 September lalu mengenai sikap Indonesia terkait krisis di Suriah, sangat mengecewakan. Meskipun tidak secara terang-terangan mendukung skema global Amerika menggusur Presiden Bashar Assaad, namun penekannya pada upaya dunia internasional untuk menghentikan konflik bersenjata di Suriah, bisa ditafsirkan tetap memberi angin bagi kekuatan-kekuatan pro Amerika dan Eropa Barat untuk menggusur Presiden Assaad dari kursi kepresidenan.

Tentu saja pernyataan Presiden SBY tersebut dipandang sangat berhaluan pro Amerika dan para sekutunya yang menggunakan dalih demokrasi dan pelanggaran hak-hak asassi manusia sebagai pembenaran agar dunia internasional melakukan isolasi total terhadap Presiden Assaad. Padahal. Presiden Hugo Chavez dari Venezuela justru mengluarkan sikap yang jauh lebih progresif daripada Presiden SBY.


Dengan menyatakan diri berada dalam satu sikap dan haluan dengan Rusia dan Cina yang sudah terlebih dahulu mengecam campur-tangan AS di Suriah, Hugo Chavez menegaskan bahwa mendukung gerakan penggulingan kekuasaan Presiden Bashar Assaad berarti secara terang-terangan melakukan pelanggaran kedaulatan nasional Suriah.

Global Future Institute berpandangan bahwa peran aktif dan agresif dari Cina dan Rusia dalam menentang hegemoni global AS di Suriah, kiranya merupakan faktor penting sehingga Amerika sampai sejauh ini masih menahan diri untuk bertindak terlalu jauh sebagaimana dilakukan negara Paman Sam tersebut dalam peran aktifnya memotori penggulingan kekuasaan Presiden Libya Moammar Khadafi beberapa waktu yang lalu.

Sebagaimana kita ketahui bersama, Rusia dan Cina telah tiga kali memveto draft resolusi yang disponsori oleh Amerika dan negara-negara sekutu baratnya, karena kedua negara adidaya pesaing Amerika tersebut khawatir bakal terjadinya “Skenario Libya” di Suriah. Bahkan Presiden Vladimir Putin sudah pada taraf mengambil suatu sikap yang boleh dibilang cukup konfrontatif terhadap Amerika dan yang dia sebut sebagai “musuh-musuh Moskow di perang dingin (AS).”

"Bersiaplah untuk menghadapi setiap perkembangan situasi, bahkan untuk yang paling tidak menguntungkan, begitu tandas Putin." Tak pelak lagi pernyataan seperti ini sudah pada taraf menarik garis tegas antara Moskow dan Washington.

Bagi kita di Indonesia, adanya dukungan aktif dari Cina dan Rusia, maupun dukungan terbuka dari negara-negara sedang berkembang yang tergabung dalam Gerakan Non Blok seperti Iran dan Venezuela, sudah tentu patut kita sambut dengan gembira dan wajib mendapat dukungan meluas dari seluruh elemen strategis di Indonesia baik di pemerintahan, DPR maupun organisasi-organisasi sosial-kemasyarakatan dan keagamaan termasuk Nahdlatul Ulama (NU) maupun Muhammadiyah.

Sudah selayaknya seluruh elemen strategis bangsa Indonesia menaruh kekhawatiran sekaligus mewaspadai setiap perkembangan konstalasi global di kawasan Timur Tengah dan Afrika, menyusul kian memanasnya krisis di Suriah akhir-akhir ini. Karena yang kita hadapi sejatinya adalah pelaksanaan strategi global AS untuk menguasai “jalur-jalur strategis” di kawasan Timur Tengah dan Afrika.

Dari hasil penelusuran tim riset Global Future Institute, rencana strategis Washington untuk mencaplok Suriah bukan sekadar isapan jempol belaka. Menurut Road Map yang disusun oleh Pentagon yang bertajuk “Penaklukkan Dunia”, penaklukkan kawasan Jalur Sutra sudah dirancang Washington dengan dimulai dari Irak, Suriah, Lebanon, Libya, Somalia, dan Sudan.

Sedangkan menurut dokumen Sentral Komando 1995 yang sudah dideklasifikasikan AS kepada publik, target pertama memang Irak. Tampaknya “target pertama” telah berhasil dikerjakan oleh Presiden George W. Bush pada 2003.

Skenario ini dengan nyata bisa dilihat melalui perkembangan terkini di Suriah. Sebagai negara yang dilalui oleh Jalur Sutra, Suriah sekarang ini praktis terkepung oleh negara-negara satelit AS dari berbagai penjuru. Celakanya, kepungan datang negara-negara yang berbatasan langsung dengan Suriah. Misalnya dari Libanon berasal di kota Ersal, dari Turki bersumber di Hakkari dan dari Al Mafraq, sebuah daerah yang dijuluki sebagai “kota konspirasi” di Jordania. Berarti setidaknya tiga negara yaitu Lebanon, Turki dan Jordania, menjadi andalan AS untuk melancarkan kepungan dan blokade militer terhadap pemerintah Suriah.

Cina dan Rusia cukup punya alasan kuat mengecam campur tangan AS di Suriah. Presiden Venezuela Hugo Chavez juga tidak omong kosong ketika mengatakan penggusuran Presiden Bashar Assaad merupakan pelanggaran kehormatan dan kedaulatan nasional terhadap Suriah.

Bahkan menurut kajian beberapa staf peneliti Global Future Institute, ini lebih dari sekadar campur tangan dalam urusan dalam negeri Suriah. Beberapa fakta mengindikasikan bahwa manuver militer dan intelijen AS telah mendapat dukungan daro negara-negara satelitnya di Timur Tengah seperti Arab Saudi dan Qatar (Dewan Kerjasama Teluk atau Gulf Cooperation Council-GCC), 

Februari lalu, kami dari Global Future Institute mengangkat satu artikel terkait bantuan diam-diam Inggris terhadap para pemberontak Suriah. Inggris, salah satu sekutu tradisional AS, dan salah satu negara satelitnya, Qatar, dilaporkan telah melancarkan operasi khusus guna membantu para pemberontak Suriah di Kota Homs, 162 kilometer dari Damaskus. Ada dugaan kedua negara itu mempersenjatai Pemberontak Suriah.

Seperti dilaporkan DEBKAfile dan sumber-sumber intelijen, pasukan khusus ini tidak terlibat dalam pertempuran langsung dengan pasukan Suriah. Namun mereka berperan sebagai penasihat strategi, mengatur serangan serta komunikasi bagi para pemberontak serta memberikan bantuan terkait senjata, amunisi serta memasok kebutuhan logistik. Sebagaimana berita yang dilansir oleh DEBKA, kedua pasukan militer asing dari Inggris dan Qatar tersebut telah menyiapkan empat titik yang akan menjadi target operasi mereka. Keempat titik penting itu berada di bagian utara distrik Homs Khaldiya, bagian timur Bab Amro, dan di utara Bab Derib dan Rastan.

Dari fakta tersebut di atas, maka praktis Inggris dan Qatar, dan tentu saja juga atas dukungan sepenuhnya dari AS beserta negara negara yang tergabung dalam Dewan Kerjasama Teluk, maka tak pelak ini merupakan bagian dari Operasi militer secara terbuka. Karena sejauh ini Inggris dan Qatar memang secara resmi diketahui merupakan dua negara yang sangat mendukung dilakukannya tindakan militer terhadap Suriah.

Sikap Indonesia Terhadap Krisis Suriah

Karena itu, Global Future Institute sudah sampai pada sebuah kesimpulan, bahwa gerakan menumbangkan Presiden Assaad, merupakan bagian integral dari tahapan Strategi Global AS dan sekutu-sekutunya seperti Inggris dan Perancis, untuk menguasai Suriah sebagai mata-rantai penting dan strategis sebagai salah satu negara yang dilewati oleh Jalur Sutra.

Yang patut kami sayangkan, masih banyak para pihak yang belum memahami betapa krusialnya krisis Suriah di kalangan masyarakat Indonesia, termasuk di jajaran pemerintahan Presiden SBY. Sikap yang diambil Presiden SBY sewaktu berpidato di Munas PBNU, sedikit banyak menggambarkan betapa minimnya informasi dan analisis perkembangan terkini di Suriah, apalagi ketika krisis Suriah dipandang dalam kerangka strategi Global AS untuk melakukan hegemoni terhadap kawasan ini.

Penekanan SBY agar lebih fokus pada bangsa Suriah dan penghentian konflik bersenjata, sadar atau tidak mengabaikan sisi paling krusial dari krisis Suriah. Yaitu, adanya konspirasi global untuk mengaitkan penggulingan Presiden Bashar Assaad sebagai momentum untuk menghancurkan kedaulatan nasional Suriah. Sekaligus menjadikan negara Paman Sam dan sekutu-sekutu strategisnya sebagai Penguasa tunggal di kawasan Jalur Sutra yang membentang dari wilayah Cina, Timur Tengah dan Afrika.

Menyikapi kondisi obyektif di Suriah sekarang, Indonesia tidak bisa netral dan acuh tak acuh. Harus ada sebuah tindakan nyata dan bersifat ofensif baik dari jajaran kementerian luar negeri, maupun elemen-elemen masyrakat, terutama dua organisasi Islam terbesar di Indonesia NU dan Muhammadiyah, untuk menyatukan sikap menentang campur tangan AS dalam urusan dalam negeri Suriah.

Adalah ironi sekaligus tragedy besar, ketika Indonesia yang dikenal sejarah sebagai negara perintis dan pelopor Konferensi Asia-Afrika pada 1955 di Bandung, maupun terbentuknya Gerakan Negara-Negara Non-Blok sebagai kekuatan alternatif di luar dua kutub perang dingin antara Amerika versus Rusia-Cina, saat ini justru bersikap pasif dan tidak mau tahu, atas konstalasi perkembangan global di kawasan Timur Tengah dan Afrika. Dan ketika salah satu negara di kawasan ini, yaitu Suriah, sedang berjuang dengan segenap jiwa dan raganya, untuk membendung hegemoni Global AS dan negara-negara Arab satelitnya yang tergabung dalam Dewan Kerjasama Teluk, untuk memonopoli minyak dan gas alam di kawasan ini.

Maka dari itu, pemerintah dan seluruh elemen masyarakat Indonesia, khususnya yang menaruh perhatian pada kawasan Timur Tengah dan Afrika, sudah saatnya untuk menyikapi strategi global AS di Suriah dalam kerangka gerakan penyadaran global dan pentinya menguasai wawasan geopolitik di kalangan para pengambil keputusan strategis kebijakan luar negeri Indonesia baik di jajaran pemerintahan, komunitas bisnis, kalangan akademis, para pegiat organisasi sosial-kemasyarakatan dan keagamaan, maupun para pelaku media baik cetak. Baik media cetak, elektronik maupun cyber media.

(theglobal-review.com)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar