"Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal" (QS. Al-Hujuraat [49] : ayat 13)

Senin, 03 September 2012

Iranphobia dan Syiahphobia


Akar masalah
Terlepas dari berbagai isu yang ada, dari mulai masalah keluarga sampai keyakinan yang dianggap sesat oleh kaum mayoritas, yang tentunya dikendalikan oleh “oknum”  orang yang  “katanya” mengetahui agama secara sempurna, sehingga men “cap”  salah, bahkan sesat terhadap ajaran atau aliran yang berbeda dengan yang diketahuinya, yang berakhir dengan pelegalan kekerasan dan penjarahan.


Bahkan mungkin lebih jauhnya darah mereka yang mengikuti ajaran yang berbeda dengannya, adalah halal ditumpahkan. Tetap saja, yang namanya kekerasan terhadap sesama manusia (terlepas dari ras, suku, agama nya), penjarahan sampai pembakaran, adalah perbuatan yang tidak manusiawi, dan jelas menyalahi hak hak azasi manusia. dan kita, khsusunya pemerintah wajib menolong dan membela mereka yang menjadi korban penindasan atau kekerasan tersebut.


Syiah
Sebagian muslim di Indonesia khususnya, sangat  “alergi” dengan yang namanya Syiah, bahkan cenderung ketakutan, kalau kalau syiah akan berkembang dengan pesat di Indonesia. Hanya karena satu alasan, Syiah berbeda dengan kita ahli sunni, yang notabene sudah turun temurun diturunkan dari berbagai generasi, tanpa mau diselidiki lebih lanjut perbedaannya seperti apa dan bagaimana. Para pemuka agama pun hanya berkutat pada beberapa sumber yang ada, yang belum tentu itu sumber benar dan bisa dipercaya.

Saya, yang notabene lahir dari keluarga NU dan Muhammadiyah, ketika pertama kali akan berangkat ke Iran, nasehat yang  disampaikan oleh keluarga dan guru guru agama saya, hanya satu, yaitu: “Jangan jadi Syiah..!!!”  tanpa menyebutkan alasan yang jelas dan masuk akal.

Sekarang, setelah dua tahun saya bermukim di Tehran, Ibu kota Iran,  dan dikarenakan saya belajar tentang Masalah Iran, yang mengharuskan saya  berkeliling keliling ke pelosok daerah yang ada di Iran, terungkap sudahlah bagaimana Syiah dan Sunni hidup berdampingan disini, jadi bohong besar, kalau ada berita, bahwa di Iran terjadi tindak kekerasan terhadap kaum Sunni. di Iran pun ada beberapa daerah yang mayoritas dihuni oleh kaum Sunni, seperti di Bandar Abbas, balochistan, khususnya di daerah Kurdistan (sekitar 12 jam perjalanan dari Tehran, kalau naik bis) persis sama dengan Indonesia, 90 % penduduk Kurdistan adalah Sunni bermazhab Syafii, tiga hari saya berada disana, dan saya seperti berada di Indonesia (timbul lagi deh “home sick” nya)  yang saya kunjungi beberapa bulan yang lalu, . Bahkan tidak hanya Sunni, Yahudi pun yang notabene agama yang tidak ada di Indonesia,  di Iran hidup secara damai, bahkan wakilnya pun ada di Parlemen Iran.

Fakta Seputar Syiah di Iran
Syiah ada beberapa ragamnya, tetapi saya disini hanya ingin membahas Syiah yang ada di Iran, yaitu Syiah Imamiyah, yang memiliki 12 Imam,  dari mulai Imam Ali bin Abi Thalib sampai imam terakhir yaitu Imam Mahdi. Terlepas dari perbedaan yang ada dengan kaum Sunni, Syiah adalah Islam dan sebenar benarnya Islam, dan saya bersaksi untuk itu, sesuai yang saya amati dan dalami. Berdasarkan pada kenyataan:
1. Tuhannya sama Allah Swt.
2. Nabinya yang terakhir adalah sama yaitu Nabi Muhammad Saw. (bahkan kelebihan dalam Syiah di Iran, tidak hanya memperingati Hari lahir atau Maulid nya saja, melainkan memperingati juga hari wafatnya, yang kemudian dijadikan libur resmi)
3. Alqurannya sama, bohong besar kalau ada yang berkata Alquran Syiah berbeda dengan Alquran Sunni. Bahkan sudah beberapa kali MTQ tingkat International diselenggarakan di Iran, termasuk diikuti oleh Indonesia, dan ternyata banyak sekali para penghafal Alquran dari Iran.
4. Shalat, sama tata cara shalat dan bacaannya, hanya sedikit perbedaannya. Bahkan shalat Jumat adalah wajib dilaksanakan.
5. Zakat Fitrah dan Shaum atau Puasa Ramadhan pun sama seperti kaum Sunni, yaitu wajib.
6. Haji dan Umrah nya pun sama dengan kita (Kaum  Sunni) dan perlu diketahui tiap tahun muslim Syiah Iran semakin bertambah yang melaksanakan haji dan umrah ke Baitullah Mekah al Mukarramah.

Televisi disini semua milik pemerintah, ada sekitar sepuluh channel, dan semua acaranya tentu saja sesuai dengan ketentuan ajaran Islam, tidak seperti di Indonesia, banyak sekali acara yang merusak generasi muda khususnya, walaupun sudah ada lembaga sensor sekalipun.

Azan Maghrib  di Televisi, selalu ditayangkan, sama dengan di Indonesia. Mungkin yang tidak sama ketika Azan Shubuh ditayangkan, bahkan beberapa menit sebelum azan shubuh ada acara pembacaan Alquran, siaran langsung dari Mekah al Mukarramah, (yang selalu membuat bulu kuduk merinding, dan air mata menetes. Sambil bertanya dan berdoa dalam hati, kapan ya Allah saya bisa kesana bersama ibu saya tercinta?), acara seperti ini, yaitu siaran langsung dari Mekah, biasanya di Indonesia hanya ada ketika Bulan Ramadhan saja.

Perbedaan adalah wajar
Setelah pemaparan saya diatas, jelas sekali terlihat, fondasi atau dasar dari yang namanya agama “Islam” sesungguhnya.  Perbedaan di luar itu semua adalah hanya perbedaan kecil atau dalam istilah agama disebut ‘furuiyah” bukan “ushul” atau pokok/dasar yang membedakan antara Islam Sunni dan Syiah.

Karena itu, kalau ada pertanyaan Mungkinkah Syiah dan Sunni bergandengan tangan? (seperti judul buku Prof. Quraish Shihab) maka jawabannya mungkin sekali.
Mereka yang sampai sekarang masih “memusuhi” syiah, itu karena mereka tidak tahu, atau mendapatkan informasi yang salah tentang syiah.

Kalau saya ditanya, apakah saya Syiah atau Sunni? Maka jawabannya adalah saya Muslimah sejati, yang bisa Syiah dan bisa juga Sunni.  Atau kalau dalam istilah Kang jalal (kalau saya tidak salah) disebut Islam Susyi, yaitu Islam Sunni Syiah.

Untuk Persatuan Umat Islam, Sunni Syiah tidaklah penting, yang paling terpenting adalah persatuan Umat Islam itu sendiri. Seperti diketahui agama Kristen pun terbagi bagi kepada beberapa aliran, ada Protestan, Katolik, Advent, dan sebagainya. Tetapi pernahkan mendengar peperangan bergejolak antara sesama Kristen ? (walaupun dulu pernah terjadi, diantaranya di Selandia baru dan Inggris). Ini yang patut kita acungi jempol, dan patut pula kita menirunya.

Terakhir, untuk kita yang mengakui Muslim, bersatulah… karena Musuh tidak akan pernah bisa masuk dan memporak porandakan fondasi kita bila kita bersatu.

Siti Fatimah - Sifa Sanjurio-
(kompasiana)

1 komentar:

  1. Terima kasih untuk sharenya Mbak.....dahsyat sekali pengalamannya:) Tulisan Mbak layak disebarluaskan untuk menangkis opini miring seputar Syiah dan Iran...semoga banyak orang yang tercerahkan dengan tulisan ini...by shalawat!

    BalasHapus