"Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal" (QS. Al-Hujuraat [49] : ayat 13)

Kamis, 22 November 2012

Peran Iran dalam Pembentukan Inti Muqawama di Palestina


Sejak pembentukan rezim zionis Israel tahun 1948, sejak saat itu pula rakyat Palestina senantiasa berjuang untuk membebaskan tanah airnya. Dalam sejarah perjuangan rakyat Palestina, mereka menggunakan berbagai macam metode dalam bingkai partai politik, kelompok, gerakan rakyat atau pemogokan demi mewujudkan cita-citanya.

Bangsa Palestina dalam perjuangannya berharap besar kepada siapa saja yang mengangkat bendera perjuangan melawan rezim Zionis Israel. Oleh karenanya, sejak pendudukan 60 tahun Palestina, kita mengenal tiga model berbeda dalam sejarah perjuangan rakyat Palestina.


1. Nasionalisme Arab

Sejak tahun 1948 negara-negara Arab dengan bersandar pada semangat nasionalisme Arab atau lebih dikenal dengan nama Pan Arabisme berusaha menghancurkan rezim Zionis Israel dan menyelamatkan Palestina. Negara-negara Arab yang digerakkan oleh Suriah, Mesir, Yordania, Lebanon dan Irak terlibat perang dengan Israel sebanyak 4 kali (tahun 1948, 1956, 1967 dan 1973), namun dapat dikata di semua perang yang dilakukan mereka tidak berhasil. Sebaliknya, Israel malah berhasil menguasai banyak daerah negara-negara Arab dan mendudukinya dengan bantuan para pendukung internasionalnya.

Negara-negara Arab memulai perang pertama terhadap rezim Zionis Israel tahun 1948. Di hari-hari pertama perang, negara-negara Arab muncul sebagai pemenang, namun Israel dengan bantuan Amerika dan negara-negara Eropa membalikkan keadaan. Setelah 10 hari perang mereka menjadi pemenang Perang Pertama ini. Hasil dari perang tahun 1948, Rezim Zionis Israel berhasil memperluas tanah pendudukannya 1/5 dari sebelumnya dan dampaknya banyak orang-orang Arab yang harus mengungsi dari tanah airnya.

8 tahun setelah itu dan pada tahun 1956 Perang Kedua Arab dan Israel terjadi dengan alasan nasionalisasi terusan Suez oleh Gamal Abdul Nasser, Presiden Mesir waktu itu. Israel kembali memenangkan perang ini dan menguasai daerah cukup luas dari gurun Sina dan Jalur Gaza.

Namun boleh dikata kemenangan besar rezim Zionis Israel atas Pan Arabisme terjadi dalam Perang Ketiga yang dikenal dengan Perang 6 hari. Pada bulan Mei 1967, pasukan militer Rezim Zionis Israel telah bersiap-siap di jalur perbatasan dengan Suriah. Presiden Mesir Gamal Abdul Nasser dengan sigap mengingatkan pihak Suriah akan kemungkinan serangan mendadak rezim Zionis Israel. Militer Mesir, Rusia, Yordania, Irak dan Kuwait telah siaga penuh. Pihak Arab dan Israel saling melontarkan tuduhan akan serangan musuh dan saling melakukan propaganda terhadap pihak lain.

Ketika kemungkinan terjadinya perang semakin memuncak, Gedung Putih dan Kremlin mengambil keputusan untuk mencegah terjadinya perang. Duta Besar Uni Soviet untuk Mesir di tengah malam membangunkan Nasser dan memperingatkannya agar tidak mengeluarkan perintah perang. Nasser mengikuti peringatan Uni Soviet dengan gambaran bahwa Amerika juga telah memperingatkan Israel agar tidak memulai perang. Abdul Nasser bukan saja tidak melakukan serangan terlebih dahulu, tapi ia juga tidak mengambil langkah hati-hati untuk menghadapi kemungkinan serangan Israel. Abdul Nasser bahkan membiarkan bandara-bandara Mesir tanpa pertahanan dan pesawat-pesawat tempur tanpa dikamuflase.

Perang akhirnya terjadi juga tanggal 5 Juni. Serangan luas dan tiba-tiba angkatan udara rezim Zionis Israel berhasil menghancurkan bandara-bandara udara Mesir, Suriah, Yordania dan Irak hanya dalam 3 jam. Setelah itu pasukan darat militer Israel memasuki medan perang dengan dukungan angkatan udaranya. Hanya dalam 6 hari, rezim Zionis Israel berhasil menduduki gurun Sina, Tepi Barat Sungai Jordan, Jalur Gaza, Dataran Tinggi Golan, kota penting Suriah al-Qunaytirah dan seluruh kota Baitul Maqdis yang sebelum ini diumumkan PBB sebagai kota internasional. Dampak dari perang ini, sekitar satu juta orang Arab yang hidup di daerah-daerah pendudukan Israel menjadi pengungsi dan luas daerah yang dijajah Israel tiga kali lipat lebih luas dari sebelumnya.

Akibat Perang 6 hari sangat menyakitkan negara-negara Arab dan menistakan mereka. Sementara itu rakyat Palestina mutlak berputus asa dari Pan Arabisme dan bantuan negara-negara Arab untuk membebaskan tanah air mereka. Dalam kondisi yang demikian, tokoh-tokoh Palestina berpikiran untuk memperkuat Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) yang dibentuk pada tahun 1964.

2. Sosialisme

Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) dibentuk pada tahun 1964 dengan tujuan menghapus Israel dan dijadikan sebagai organisasi nasionalis dan disepakati oleh para pemimpin negara-negara Arab. Para pemimpin Arab sejatinya tengah berusaha untuk mengontrol orang-orang Palestina garis keras dalam sebuah organisasi.

Hingga sebelum Perang 6 hari tahun 1967, kepemimpinan PLO berada di tangan orang-orang Palestina yang dipengaruhi negara-negara Arab, khususnya Mesir, namun setelah Perang 6 hari, tokoh-tokoh Palestina akhirnya memegang sendiri kendali PLO. Mereka berhasil melakukan operasi-operasi gerilya terhadap Israel dan secara perlahan-lahan berhasil mengembalikan sebagian identitas dan semangat rakyat Palestina yang telah hilang.

Sebagaimana telah disebutkan, setelah Perang 6 hari dengan dimulainya kepemimpinan Yasser Arafat, garis kebijakan PLO mengalami perubahan dan mampu mengakhiri masa kebergantungannya terhadap negara-negara Arab. Berbagai keberhasilan PLO dan Arafat berlanjut hingga bulan Oktober 1973, yakni mulainya Perang Keempat Arab-Israel.



Kegagalan beruntun negara-negara Arab di tiga perang sebelumnya bagi mereka sebuah penghinaan, penistaan dan sangat memalukan. Kondisi ini menyebabkan negara-negara Arab, khususnya Mesir dan Suriah memutuskan untuk bersatu dengan PLO dengan tujuan membalas kerugian sebelumnya dan mengembalikan pamor mereka yang telah hilang. Untuk itu mereka berencana untuk melakukan serangan luas terhadap Rezim Zionis Israel.

Demi menyukseskan rencana ini, militer negara-negara Arab memulai serangan mendadak pada tanggal 6 Oktober, bertepatan dengan hari Yom Kipur orang-orang Yahudi. Di saat-saat pertama serangan mendadak terhadap Israel, mereka berhasil membebaskan banyak daerah yang diduduki Israel. Namun dukungan NATO, khususnya Amerika dan pengiriman bantuan senjata ke Israel dengan membuat jembatan udara antara pangkalan-pangkalan militer NATO di Eropa dan Israel membuat situasi perang berbalik menguntungkan Israel dan akhirnya negara-negara Arab kembali harus menerima kekalahan yang keempat kalinya.

Ada perbedaan penting antara perang Arab-Israel kali ini dengan perang-perang sebelumnya. Dalam perang Oktober 1973 negara-negara Arab sudah tidak lagi berperang dengan motivasi menghancurkan Israel dan menyelamatkan rakyat Palestina, melainkan mereka lebih memprioritaskan kepentingan nasionalnya. Tujuan mereka berperang demi membebaskan daerah-daerah mereka yang diduduki Israel. Mesir berperang untuk menguasai kembali gurun Sina, sementara Suriah ingin mengembalikan dataran tinggi Golan ke pangkuannya. Dengan demikian, pihak asli yang kalah dalam perang ini adalah PLO dan rakyat Palestina. Karena Mesir dan Suriah sekalipun kalah dalam perang, namun mereka mampu mengambil kembali sebagian dari daerah yang diduduki Israel, sementara rakyat Palestina dan PLO tidak sempat melihat sejengkal pun dari tanah mereka.

Oleh karenanya, kembali lagi perang terakhir antara Arab dan Israel membuktikan kepada rakyat Palestina bahwa kecenderungan nasionalisme yang diusung PLO juga ternyata tidak mampu membantu mereka membebaskan tanah air Palestina. Medan perang melawan penjajah Israel boleh dikata jalan di tempat sehingga kemenangan Revolusi Islam Iran yang akhirnya dipilih sebagai model baru dalam melakukan perlawanan demi membebaskan Palestina.

3. Islam

Kelompok-kelompok pejuang Palestina setelah perang tahun 1973 bukan hanya tidak berhasil dalam perjuangannya, khususnya Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) yang berjuang dalam bingkai sosialis dan sekuler, tapi friksi di berbagai kalangan rakyat Palestina semakin menghebat. Tentu saja perlu diketahui bahwa sekalipun kelompok-kelompok ini berselisih, tapi mereka tetap melakukan perjuangan melawan rezim Zionis Israel dari luar Palestina pendudukan secara terbatas dan tidak langsung.

Markas PLO dan kelompok-kelompok perjuangan lainnya berada di negara-negara tetangga Palestina pendudukan seperti Suriah, Mesir, Yordania dan Lebanon. Oleh karenanya mereka terpaksa menyesuaikan kebijakannya dengan pemerintah-pemerintah Arab yang memberikan mereka tempat. Dalam kondisi yang demikian, perjuangan melawan rezim penjajah al-Quds dilakukan dengan syarat disepakati oleh negara-negara tuan rumah. Padahal negara-negara Arab di perang Oktober 1973 terbukti tidak lagi mempedulikan cita-cita Palestina. Bagi mereka yang penting adalah melindungi kepentingannya dalam bingkai hubungan dengan Israel.

Dengan dasar ini, sangat wajar bila pemerintah-pemerintah Arab memaksakan model perjuangan yang sesuai dengan kondisi negaranya kepada para pejuang Palestina. Karena khawatir akan reaksi Israel terhadap mereka. Sebagian negara Arab seperti Yordania malah berbuat lebih jahat dengan menghadapi para pejuang Palestina.

Dalam kondisi yang demikian dan setelah bangsa Palestina melewati pengalaman pahit bersama para pemimpin politiknya dan tidak lagi ada harapan, kemenangan revolusi Islam terjadi di Iran tahun 1979 dengan slogan pembebasan al-Quds. Revolusi Islam Iran mampu menghilangkan debu-debu keputusasaan dari wajah rakyat Palestina.

Setelah kemenangan Revolusi Islam Iran, gelombang kesadaran akan Islam di Timur Tengah meningkat hebat. Generasi muda Palestina yang telah putus asa akan perjuangan tidak prinsip berbagai organisasi dan kelompok Palestina dalam bingkai Sosialisme dan Nasionalisme mulai merasakan semangat revolusi yang menguasai Iran. Kemenangan revolusi Iran secara perlahan-lahan berhasil memudarkan peran kelompok-kelompok nasional dan sosialis di Palestina pendudukan.

Pembentukan Gerakan Jihad Islam

Setahun setelah kemenanganRrekvolusi Islam Iran, dibentuk gerakan Islam di Palestina pendudukan. Pembentukan Jihad Islam memunculkan potret baru mengenai Islam politik dan para pemimpin agama-politik bagi rakyat Palestina.

Gerakan Jihad Islam dan para pemimpinnya berhasil mengaitkan agama dan politik serta melakukan perjuangan bersenjata melawan rezim Zionis Israel. Keistimewaan lain Gerakan Jihad Islam bila dibandingkan dengan gerakan-gerakan lain adalah Jihad Islam tidak pernah mengambil kebijakan dari pihak luar Palestina pendudukan yang bertentangan dengan kepentingan dan kebijakan di internal Palestina. Jihad Islam dengan aksi-aksi operasi mati syahid dan keberanian luar biasa hingga kini memainkan peran penting dalam mengembalikan kepercayaan diri rakyat Palestina. Jihad Islam juga berperan penting dalam mempersiapkan dimulainya Intifada rakyat Palestina di bulan Desember 1987.

Proses Terbentuknya Intifada

Intifada Palestina pada tahun 1987 dimulai tanpa kebergantungan kelompok atau koordinasi sebelumnya partai-partai politik yang berafiliasi dengan negara-negara Arab, tapi mendapat ilham dari revolusi Islam Iran. Intifada Palestina merupakan hasil terbesar front muqawama dalam sejarah perjuangan melawan rezim Zionis Israel. Karena seluruh elemen masyarakat Palestina ikut dalam proses muqawama.



Di tahun yang sama, setelah Intifada Palestina semakin menguat di bulan Desember 1987, terbentuk sebuah organisasi perjuangan baru bernama Gerakan Perlawanan Islam Palestina atau Hamas. Pembentukan Hamas dilakukan oleh Gerakan Ikhwanul Muslimin menyusul Intifada Palestina merupakan awal peran serta Ikhwanul Muslimin dalam sebuah aksi teratur dan berkesinambungan. Perlahan-lahan Hamas berhasil menarik perhatian masyarakat dan berubah menjadi elemen asli Intifada di Palestina pendudukan. Hal ini menyebabkan semakin melebarnya friksi antara Hamas dan PLO yang memilih perdamaian dengan rezim Zionis Israel.

Pada tahun 1993 Israel memanfaatkan PLO untuk mengontrol gerakan-gerakan muqawama seelah semakin meningkatnya aksi-aksi perlawanan Palestina. Untuk itu Israel mulai melakukan berbagai perundingan dengan PLO dan dalam Konferensi Oslo Israel mengusulkan pembentukan Otorita Palestina dengan ibu kota Ramallah. Setelah terbentuknya Otorita Palestina, Rezim Zionis Israel memberikan bantuan finansial dan senjata-senjata ringan. Hal ini menggembirakan rakyat Palestina karena mereka sudah tidak lagi melihat polisi-polisi Israel yang berlalu lalang di Tepi Barat Sungai Jordan dan Jalur Gaza, tapi polisi Palestina.

Dalam kondisi yang demikian, Israel setelah memberikan berbagai insentif kepada Yasser Arafat mulai mengajukan tuntutan-tuntutannya. Mereka menuntut Arafat agar mengahadapi gerakan-gerakan Islam dan menghalangi aktivitas merusak. Menyusul perintah Arafat, sistem keamanan Otorita Palestina mulai melakukan aksinya dan menangkap serta memenjarakan banyak pejuang dan para pemimpin Jihad Islam dan Hamas.

Dengan cara ini Israel berhasil membuat orang-orang Palestina saling berhadap-hadapan dan tanpa perlu mengeluarkan biaya besar mereka berhasil mengontrol gerakan-gerakan perlawanan Islam. Kondisi ini berjalan selama 7 tahun, hingga pada tahun 2000 rakyat Palestina mulai letih menyaksikan berbagai perundingan yang tidak kunjung membuahkan hasil. Mereka kemudian memilih kembali melakukan perlawanan bersenjata dan terbentuk Intifada baru al-Aqsa. Dimulainya Intifada al-Aqsa bertepatan dengan semakin terisolasinya Yasser Arafat secara politik dan menjadi tahanan rumah di Ramallah. Kenyataan ini menjadi titik tolak kemunduran Otorita Palestina, sementara kelompok-kelompok muqawama Islam semakin kuat dengan dukungan rakyat.

Muqawama Islam di perang Gaza berhasil membuktikan bahwa kini mereka memiliki basis rakyat yang kuat dan tidak ada satu kekuatan pun yang dapat memaksa mereka untuk menerima arogansi rezim Zionis Israel. 


(IRIB Indonesia / Saleh Lapadi)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar