"Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal" (QS. Al-Hujuraat [49] : ayat 13)

Jumat, 17 Mei 2013

Peran Ulama dalam Gerakan Kebangkitan Islam


Tehran pada 29-30 April menjadi tuan rumah sekitar 700 ulama dan tokoh Islam dari 80 negara. Mereka mengunjungi Iran untuk mengikuti Konferensi Internasional Ulama dan Kebangkitan Islam. Konferensi ini merupakan kelanjutan dari pertemuan sebelumnya "Forum Internasional Kebangkitan Islam" termasuk konferensi pemuda, perempuan, penyair dan dosen. Konferensi Ulama dan Kebangkitan Islam bila dibandingkan dengan konferensi yang sebelumnya lebih penting. Urgensi ini dapat dilihat pada substansi gerakan kebangkitan itu sendiri yang disifati dengan kata Islam.


Oleh karenanya, ulama Islam sebagai para pemimpin bila dibandingkan pelbagai kalangan masyarakat memiliki pengetahuan dan pengenalan yang lebih tentang Islam. Ulama juga memiliki posisi khusus dalam menciptakan dan membimbing gerakan Kebangkitan Islam.


Konferensi Internasional Ulama dan Kebangkitan Islam dibuka dengan pidato Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei, Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran. Beliau dalam pidatonya membahas patologi gerakan Kebangkitan Islam dan peran ulama dalam membimbing gerakan ini. Sekaitan dengan urgensi gerakan Kebangkitan Islam, Ayatullah Khamenei mengatakan, "Apa yang kita saksikan saat ini di depan mata kita dan setiap manusia cerdas tidak dapat mengingkarinya adalah Islam sekarang telah keluar dari pinggiran konstelasi sosial dan politik dunia dan berada pada pusat elemen penentu kejadian di dunia. Islam telah memiliki posisi penting di dunia. Islam memberikan cara pandang baru terkait kehidupan, politik, pemerintahan dan transformasi sosial."

Kepada ulama yang hadir dalam konferensi Tehran dan seluruh ulama di dunia Islam, Rahbar mengatakan, "Ini merupakan dampak pertama dari peristiwa politik dan revolusi di utara Afrika dan Timur Tengah bila dibandingkan dengan dunia. Hal ini menjadi kabar gembira akan hakikat yang lebih besar. Hakikat yang akan terjadi di masa depan." Sejak bulan Desember 2011 hingga kini, gerakan-gerakan Islam mengalami fluktuasi. Gerakan Kebangkitan Islam di sebagian pemerintahan zalim seperti Tunisia, Mesir dan Libya berujung pada tumbangnya para pemimpin zalim negara itu.

Sementara di sebagian negara lain seperti Yaman, negara-negara Barat segera melengserkan Ali Abdullah Saleh dari kekuasaan dengan tetap mempertahankan struktur kekuasaannya demi mencegah tumbangnya pemerintah Yaman. Di Bahrain dan di negara-negara monarki dan kesukuan di Timur Tengah, negara-negara Barat berusaha keras memberikan dukungan terhadap pemerintah untuk mencegah munculnya gerakan Kebangkitan Islam. Mereka tampil secara transparan mendukung rezim Al Khalifa menumpas protes rakyat yang hanya menuntut hak-hak, kebebasan sipil dan penghapusan diskriminasi.

Di awal pembicaraannya, Pemimpin Besar Revolusi Islam menyebut kebangkitan Islam sebagai fenomena mengagumkan yang jika selamat dan terus berjalan akan menjadi landasan bagi lahirnya peradaban Islam dalam kurun waktu yang tidak begitu lama. Menyinggung kepanikan yang nampak pada diri para juru bicara kubu arogansi dan reaksionisme dunia saat mendengar nama ‘kebangkitan Islam', beliau mengatakan, "Kebangkitan Islam sekarang sudah menjadi fakta yang tanda-tandanya bisa disaksikan di seluruh pelosok Dunia Islam. Buktinya yang paling mencolok adalah kecenderungan besar opini umum dunia, khususnya kalangan muda, kepada upaya menghidupkan kembali kebesaran dan keagungan Islam dan terkuaknya wajah rezim-rezim hegemoni yang bengis, keji dan congkak."

Di negara-negara yang Kebangkitan Islam menyebabkan tumbangnya para penguasa, kita menyaksikan dua sikap penting; yang pertama kelompok-kelompok Islam seperti gerakan Ikhwanul Muslimin berusaha membentuk pemerintahan berdasarkan syariat Islam dan kedua, gerakan yang berasal dari luar untuk menciptakan kebuntuan politik dengan mendukung kelompok-kelompok sekular atau Salafi. Dana para penguasa Arab negara-negara Teluk Persia dipergunakan untuk melayani tujuan negara-negara Barat, utamanya Amerika. Sejatinya, Amerika dengan mengubah peta politik negara-negara ini dan mengubah atmosfir politik yang dikuasai revolusioner, sedang berusaha untuk menghentikan revolusi ini agar tidak menyebar ke negara-negara lain. Dan di sisi lain, dengan mengikuti revolusi-revolusi yang ada secara lahiriah, mereka berusaha untuk mengelolanya agar tidak menunjukkan wajah anti Barat.

Salah satu politik penting Amerika dan sekutu Baratnya untuk menyimpangkan gerakan anti penindasan dan penjajahan di negara-negara Islam adalah memperluas perselisihan antar mazhab dan etnis di negara-negara Islam. Di sini, ulama dan tokoh masyarakat berperanpenting untuk menggagalkan rencana musuh Kebangkitan Islam. Ulama dan tokoh masyarakat sepanjang sejarah memiliki peran luar biasa dalam menghadapi kezaliman para penguasa. Mereka juga berjuang melawan para penjajah asing. Peran ini sangat kental, khususnya dalam dua abad terakhir. Sejatinya ulama Islam, khususnya fuqaha Syiah senantiasa menjadi pelopor kebangkitan dan gerakan sosial anti kezaliman.

Revolusi Islam Iran yang dipimpin oleh Imam Khomeini ra merupakan bukti paling nyata dari gerakan-gerakan ini. Kini gerakan Kebangkitan Islam tidak dapat menutup mata dari kebutuhannya akan kehadiran ulama. Pentingnya masalah ini akan semakin jelas ketika kita mengetahui bahwa di sebagian negara-negara yang menghadapi Kebangkitan Islam, ulama Islam tidak memimpin kebangkitan ini pada awal kebangkitan dikarenakan sebagian prinsip-prinsip fiqih atau akidah yang tidak benar. Mereka ini bahkandipakai untuk mendukung dan memperkuat para pemimpin diktator dengan fatwa-fatwanya yang melarang rakyat bangkit melawan penguasa.

Tapi sekarang semua semakin jelas soal legitimasi kebangkitan melawan penguasa zalim. Tuntunan yang benar atas gerakan kebangkitan harus kembali berada di tangan ulama, sehingga anasir-anasir asing tidak dapat memanfaatkan kekosongan pemimpin agama dan menyimpangkan kebangkitan yang ada. Dalam deklarasi yang dibacakan di akhir konferensi dua hari ulama dan Kebangkitan Islam juga telah dijelaskan mengenai masalah ini. Dalam butir keempat dari deklarasi ini disebutkan, "Kewajiban penting ulama dan cendekiawan dunia Islam dalam kondisi saat ini adalah menjelaskan dimensi teoritis dan landasan Qurani, Hadis dan fiqih dari Kebangkitan Islam, menjelaskan tujuan dan cita-cita utama Kebangkitan Islam dan menghadapi segala bentuk pemikiran ekstrim kiri dan kanan yang berusaha menyimpangkan gerakan rakyat ini. Masalah ini hanya dapat dilakukan lewat ijtihad dan jihad yang berkelanjutan."

Dalam butir kelima ditekankan mengenai upaya memberantas pemikiran jumud. Karena konspirasi Barat untuk menyimpangkan gerakan Kebangkitan Islam adalah memanfaatkan kejumudan pemikiran sebagian umat Islam. Lewat kejumudan ini dimunculkan isu konflik sektarian. Ayatullah al-Udzma Khamenei menegaskan, "Konspirasi ini sekarang tengah dijalankan oleh agen-agen spionase Barat dan Zionis dengan bantuan dolar-dolar hasil penjualan minyak dan para politikus yang telah menjual diri mereka. Konspirasi ini dijalankan dengan getol dari kawasan Asia timur sampai utara Afrika, khususnya di wilayah Dunia Arab. Uang yang seharusnya bisa dimanfaatkan untuk menyejahterakan kehidupan umat manusia justeru digunakan untuk menebar ancaman, aksi pengkafiran, teror, peledakan, penumpahan darah umat Islam dan pengobaran api fitnah untuk jangka panjang."

Sementara pada butir keenam dari deklarasi Konferensi Tehran menegaskan masalah penting terkait persatuan antara mazhab-mazhab Islam. Disebutkan, "Tak syak bahwa persatuan merupakan rahasia kemenangan dan modal bagi pertumbuhan dan kemajuan. Sementara perselisihan faktor yang dapat menggagalkan gerakan umat Islam." Ulama dari setiap mazhab dan kelompok-kelompok Islam harus menerima perbedaan pemikiran dan akidah. Karena penerimaan itu dengan sendirinya menjadi faktor bagi pertumbuhan masyarakat Islam. Jangan membiarkan perbedaan ini menjadi perseteruan politik, perang dan pembantaian yang menjadi target dari musuh-musuh agama. 
(irib.ir)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar